DARI
KAMMI, UNTUK INDONESIA
Oleh:
Ririn Marini
Perjumpaan
yang indah. Itulah kesan pertama saya ketika pada sekitar bulan April 2013 lalu
mengikuti DM1 KAMMI Komisariat Untirta. Sejujurnya, saya tidak terlalu tahu,
apa itu KAMMI? Hanya sekadar ‘ikut-ikutan’ dan tak punya tujuan yang jelas.
Hingga ketika kredo gerakan KAMMI menggelegar di telinga saya “KAMMI bergerak atas dasar pemahaman, bukan taklid
(ikut-ikutan)”. Hati saya tersentak, tersinggung lebih tepatnya.
KAMMI,
saya menyebutnya sebuah rumah. Sebutan yang pertama kali saya dengar dari
seorang saudari saya, “anggaplah KAMMI ini adalah rumah untuk kita. Kita boleh
bepergian, namun tetap tempat tinggal kita disini.” Betapa indahnya perkataan
sederhana itu. Layaknya sebuah rumah, berarti di dalamnya tinggal sebuah
keluarga. KAMMI adalah sebuah keluarga bahagia yang tengah membangun peradaban
untuk negeri tercinta, Indonesia.
Saya
dididik di rumah ini. Dulu saya bukanlah orang yang pandai berkata-kata,
terlebih di muka umum. Memang bukan sebuah keharusan untuk banyak berbicara.
Tetapi, ketika apa yang kita ucapkan tersebut adalah kebenaran, kita tentu
menjadi wajib untuk menyeru. Disinilah saya telah, masih, dan akan terus
belajar bagaimana cara berkata, berseru yang baik, hingga yang baik menjadi
lebih baik, dan yang dzalim bisa segera sadar. Juga dahulu, saya bukanlah orang
yang peduli terhadap bangsa ini, apatis biasa disebutnya. Saya pikir, tak ada
gunanya mengurusi negeri yang sudah amburadul ini. Tetapi KAMMI berhasil
mendobrak pola pikir apatis dalam diri ini. Saya harus bergerak, untuk
Indonesia, salah satu belahan bumi Allah swt.
KAMMI,
PENTINGKAH UNTUK INDONESIA?
Rumah
yang nyaman tidak berarti semua orang akan menyukainya. Ada saja yang meragukan
kenyamanannya, bahkan mencelanya. Bagi saya, itu hal yang sangat wajar. Bukan
perjuangan namanya kalau tanpa hambatan. Rasulullah saja yang sudah pasti
benarnya, banyak mendapat hinaan, celaan, bahkan ancaman untuk dibunuh. Tentu
saya tak bisa membandingkan antara KAMMI dan perjuangan Rasul yang teramat
membutuhkan banyak pengorbanan itu. Namun kami mencoba untuk mencontoh apa yang
telah Rasulullah perjuangkan. Insya Allah.
Di
zaman yang katanya semakin maju ini, ternyata berbanding terbalik dengan moral
yang dimiliki bangsa Indonesia. Korupsi sudah menjadi tren, kemiskinan tak
terelakkan, juga pergaulan remaja yang semakin tak terkontrol. Semua itu hanya
sebagian kecil dari permasalahan yang ada di Indonesia. Hal inilah yang
kemudian membuat KAMMI bergerak, melakukan hal-hal yang diharapkan membawa
perubahan yang lebih baik.
BAGAIMANA
KAMMI BERGERAK?
“Bekerjalah kamu maka
Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin,
dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS.
At-Taubah:105)
Ayat
al-Quran diatas adalah gambaran sederhana tentang bagaimana KAMMI bergerak.
Bukan tujuan KAMMI, ketika orang banyak tahu apa yang telah kami lakukan,
melainkan hanya Allah dan Rasul-Nya, yang menjadi saksi. Juga orang-orang
mukmin yang menyertai kami dalam pergerakan ini.
Juga
sudah saya sebutkan di awal bahwa KAMMI bergerak atas dasar pemahaman. Kita
tentu butuh memahami apa yang terjadi, bagaimana bisa terjadi, dan selanjutnya
kita bisa mendapat solusi yang kita butuhkan untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.
Dari
yang saya alami selama kurun waktu satu tahun bergabung dengan KAMMI, gerakan
yang terjadi disini adalah gerakan yang berproses. KAMMI berhasil memperbaiki
pribadi yang ingin melakukan perubahan dalam dirinya. Setelah itu meluas ke
skala yang lebih besar; keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia. Sekali lagi,
semuanya melalui proses yang mungkin membutuhkan waktu. Namun saya melihat,
KAMMI berproses dengan arah yang jelas. Jelas karena yang menjadi pedoman KAMMI
adalah kalam Allah dan Al-Hadits.
SAYA
JATUH CINTA
Kalau
banyak orang yang mengatakan, cinta itu dari mata turun ke hati, pun demikian
dengan saya yang mulai jatuh cinta sejak awal perjumpaan yang indah itu. Saya
melihat-dengan mata hati- bahwa KAMMI adalah cara terbaik untuk melakukan
perubahan, baik perubahan dalam diri saya sendiri maupun perubahan untuk
Indonesia agar menjadi lebih baik.
Adalah
suatu kemustahilan, ketika kita ingin melakukan perubahan untuk bangsa ini
tanpa kita memperbaiki pribadi kita masing-masing terlebih dahulu. Bagaimana
bisa mengubah orang lain kalau kita sendiri tak pernah menyadari ada yang masih
kurang dalam diri kita? Sebagai manusia, hakikatnya kita selalu melakukan dosa.
Akan sangat bahaya ketika kita tak menyadari dosa atau kesalahan kita tersebut.
KAMMI
(menurut cara pandang saya) adalah sebuah organisasi pergerakan yang sangat
berbeda. Disini saya tidak hanya dididik untuk memperbaharui negeri ini. Tapi,
lebih awal dari pemahaman tentang kewajiban tersebut, saya disadarkan pada satu
realitas bahwa saya, sebagai hamba Allah, harus memperbaharui jiwa yang
berlumuran dosa ini, juga sedikit demi sedikit ikut berperan dalam perbaikan
masyarakat lebih luas. Semuanya berproses dengan begitu indahnya. KAMMI adalah
sebuah wadah yang terus mencetak para pemimpin yang kelak akan mengembalikan
bangsa pada kejayaannya. Allahu Akbar!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar