Rabu, 26 Maret 2014

AKU, KAMMI, UNTUK INDONESIA



DARI KAMMI, UNTUK INDONESIA
Oleh: Ririn Marini
Perjumpaan yang indah. Itulah kesan pertama saya ketika pada sekitar bulan April 2013 lalu mengikuti DM1 KAMMI Komisariat Untirta. Sejujurnya, saya tidak terlalu tahu, apa itu KAMMI? Hanya sekadar ‘ikut-ikutan’ dan tak punya tujuan yang jelas. Hingga ketika kredo gerakan KAMMI menggelegar di telinga saya “KAMMI  bergerak atas dasar pemahaman, bukan taklid (ikut-ikutan)”. Hati saya tersentak, tersinggung lebih tepatnya.
KAMMI, saya menyebutnya sebuah rumah. Sebutan yang pertama kali saya dengar dari seorang saudari saya, “anggaplah KAMMI ini adalah rumah untuk kita. Kita boleh bepergian, namun tetap tempat tinggal kita disini.” Betapa indahnya perkataan sederhana itu. Layaknya sebuah rumah, berarti di dalamnya tinggal sebuah keluarga. KAMMI adalah sebuah keluarga bahagia yang tengah membangun peradaban untuk negeri tercinta, Indonesia.
Saya dididik di rumah ini. Dulu saya bukanlah orang yang pandai berkata-kata, terlebih di muka umum. Memang bukan sebuah keharusan untuk banyak berbicara. Tetapi, ketika apa yang kita ucapkan tersebut adalah kebenaran, kita tentu menjadi wajib untuk menyeru. Disinilah saya telah, masih, dan akan terus belajar bagaimana cara berkata, berseru yang baik, hingga yang baik menjadi lebih baik, dan yang dzalim bisa segera sadar. Juga dahulu, saya bukanlah orang yang peduli terhadap bangsa ini, apatis biasa disebutnya. Saya pikir, tak ada gunanya mengurusi negeri yang sudah amburadul ini. Tetapi KAMMI berhasil mendobrak pola pikir apatis dalam diri ini. Saya harus bergerak, untuk Indonesia, salah satu belahan bumi Allah swt.
KAMMI, PENTINGKAH UNTUK INDONESIA?
Rumah yang nyaman tidak berarti semua orang akan menyukainya. Ada saja yang meragukan kenyamanannya, bahkan mencelanya. Bagi saya, itu hal yang sangat wajar. Bukan perjuangan namanya kalau tanpa hambatan. Rasulullah saja yang sudah pasti benarnya, banyak mendapat hinaan, celaan, bahkan ancaman untuk dibunuh. Tentu saya tak bisa membandingkan antara KAMMI dan perjuangan Rasul yang teramat membutuhkan banyak pengorbanan itu. Namun kami mencoba untuk mencontoh apa yang telah Rasulullah perjuangkan. Insya Allah.
Di zaman yang katanya semakin maju ini, ternyata berbanding terbalik dengan moral yang dimiliki bangsa Indonesia. Korupsi sudah menjadi tren, kemiskinan tak terelakkan, juga pergaulan remaja yang semakin tak terkontrol. Semua itu hanya sebagian kecil dari permasalahan yang ada di Indonesia. Hal inilah yang kemudian membuat KAMMI bergerak, melakukan hal-hal yang diharapkan membawa perubahan yang lebih baik.
BAGAIMANA KAMMI BERGERAK?
“Bekerjalah kamu maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. At-Taubah:105)
Ayat al-Quran diatas adalah gambaran sederhana tentang bagaimana KAMMI bergerak. Bukan tujuan KAMMI, ketika orang banyak tahu apa yang telah kami lakukan, melainkan hanya Allah dan Rasul-Nya, yang menjadi saksi. Juga orang-orang mukmin yang menyertai kami dalam pergerakan ini.
Juga sudah saya sebutkan di awal bahwa KAMMI bergerak atas dasar pemahaman. Kita tentu butuh memahami apa yang terjadi, bagaimana bisa terjadi, dan selanjutnya kita bisa mendapat solusi yang kita butuhkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Dari yang saya alami selama kurun waktu satu tahun bergabung dengan KAMMI, gerakan yang terjadi disini adalah gerakan yang berproses. KAMMI berhasil memperbaiki pribadi yang ingin melakukan perubahan dalam dirinya. Setelah itu meluas ke skala yang lebih besar; keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia. Sekali lagi, semuanya melalui proses yang mungkin membutuhkan waktu. Namun saya melihat, KAMMI berproses dengan arah yang jelas. Jelas karena yang menjadi pedoman KAMMI adalah kalam Allah dan Al-Hadits.
SAYA JATUH CINTA
Kalau banyak orang yang mengatakan, cinta itu dari mata turun ke hati, pun demikian dengan saya yang mulai jatuh cinta sejak awal perjumpaan yang indah itu. Saya melihat-dengan mata hati- bahwa KAMMI adalah cara terbaik untuk melakukan perubahan, baik perubahan dalam diri saya sendiri maupun perubahan untuk Indonesia agar menjadi lebih baik.
Adalah suatu kemustahilan, ketika kita ingin melakukan perubahan untuk bangsa ini tanpa kita memperbaiki pribadi kita masing-masing terlebih dahulu. Bagaimana bisa mengubah orang lain kalau kita sendiri tak pernah menyadari ada yang masih kurang dalam diri kita? Sebagai manusia, hakikatnya kita selalu melakukan dosa. Akan sangat bahaya ketika kita tak menyadari dosa atau kesalahan kita tersebut.
KAMMI (menurut cara pandang saya) adalah sebuah organisasi pergerakan yang sangat berbeda. Disini saya tidak hanya dididik untuk memperbaharui negeri ini. Tapi, lebih awal dari pemahaman tentang kewajiban tersebut, saya disadarkan pada satu realitas bahwa saya, sebagai hamba Allah, harus memperbaharui jiwa yang berlumuran dosa ini, juga sedikit demi sedikit ikut berperan dalam perbaikan masyarakat lebih luas. Semuanya berproses dengan begitu indahnya. KAMMI adalah sebuah wadah yang terus mencetak para pemimpin yang kelak akan mengembalikan bangsa pada kejayaannya. Allahu Akbar!!!